Flamingballofwreckage.net – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Kamis sore mengalami penutupan yang menurun, ditandai dengan penurunan 76,30 poin atau 1,20 persen ke level 6.298,61. Penurunan ini mengikuti tren negatif dari bursa-bursa di kawasan Asia, yang tertekan oleh kekhawatiran inflasi dan potensi kenaikan suku bunga acuan di tingkat global.
Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, menyatakan bahwa kondisi IHSG dipengaruhi oleh koreksi di bursa Amerika Serikat dan Eropa, akibat lonjakan imbal hasil obligasi AS serta ketegangan yang meningkat di Timur Tengah, yang ikut mendorong harga minyak. Beberapa pejabat The Fed mengindikasikan kekhawatiran yang lebih besar terhadap inflasi, melonggarkan potensi kenaikan suku bunga lanjutan.
Peluang dialog antara AS dan Iran dalam konteks pembicaraan damai juga masih dipertanyakan, di mana Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan sikap tegas Teheran terhadap AS namun tetap membuka peluang negosiasi. Selain itu, para pelaku pasar menanti hasil pertemuan antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping, terkait perpanjangan gencatan senjata perdagangan.
Di dalam negeri, pelaku pasar menghadapi berbagai tantangan, termasuk melambatnya pertumbuhan ekonomi dan menguatnya dolar AS. Meskipun Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan pada bulan September, risiko-risiko global tetap menjadi perhatian utama bagi investor.
IHSG diperdagangkan dengan frekuensi mencapai 1,62 juta transaksi, di mana sebanyak 198 saham mengalami kenaikan, sementara 487 saham mengalami penurunan. Semua 11 sektor yang terdaftar di IDX-IC juga mengalami penurunan, menunjukkan ketidakpastian yang melanda pasar saat ini.