Flamingballofwreckage.net – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan bahwa saat ini, pihaknya masih mencari formula yang tepat untuk merealisasikan rencana pembentukan bursa mineral. Hal ini diungkapkan saat Bahlil ditemui di Gedung DPR, Jakarta, pada Senin (8/6/2026). Ia mencatat bahwa diskusi terkait wacana ini dengan para pemangku kepentingan belum berlangsung secara signifikan, sehingga kemungkinan besar penerapannya tidak akan terjadi dalam waktu dekat.
Dalam pernyataannya, Bahlil menjelaskan bahwa wacana pembentukan bursa karbon juga memerlukan lebih banyak dialog dengan semua pihak terkait, baik pemerintah maupun sektor swasta. Bursa ini diharapkan dapat menjadi acuan harga komoditas yang dijual oleh perusahaan tambang ke pasar. “Saya pikir itu belum kearah sanalah, nanti kita akan bahas,” ujarnya.
Sebagai informasi tambahan, PT Sumber Daya Indonesia (DSI) yang telah beroperasi, akan menjalankan fungsi dalam dua fase. Fase pertama, dari Juni hingga Desember 2026, DSI akan berperan sebagai pengawas kegiatan ekspor untuk komoditas seperti batubara, CPO, dan ferro alloy. Langkah ini diharapkan dapat memberikan pengawasan yang lebih baik terhadap sektor ekspor, terutama dalam hal kepatuhan terhadap regulasi yang berlaku.
Dengan langkah-langkah ini, pemerintah berupaya meningkatkan transparansi dan efisiensi di pasar mineral nasional, meskipun pembentukan bursa mineral masih dalam tahap perencanaan awal. Diharapkan, dengan adanya kolaborasi yang solid antara pemerintah dan pelaku usaha, rencana ini dapat terwujud dalam waktu yang akan datang demi kemajuan industri mineral di Indonesia.