Flamingballofwreckage.net – Penyanyi pop Olivia Rodrigo memberikan tanggapan tegas terhadap kontroversi mengenai gaun babydoll yang dikenakannya saat tampil di Teatre Grec, Barcelona, pada 8 Mei lalu. Penampilannya memicu perdebatan di media sosial, di mana beberapa netizen menuduhnya telah menseksualisasi pakaian anak-anak. Menanggapi kritik tersebut, Rodrigo menekankan bahwa hal ini mencerminkan normalisasi pedofilia dalam budaya masyarakat saat ini.
Rodrigo tampil mengenakan gaun bermotif bunga saat membawakan lagu terbarunya, “Drop Dead.” Gaya busana ini juga diambil untuk sampul album ketiga yang akan datang. Dalam wawancara di acara Popcast milik The New York Times, Olivia menyatakan ketidakpuasannya, mempertanyakan mengapa pakaian yang lebih tertutup justru menjadi sorotan, sementara penampilan yang lebih terbuka sudah menjadi hal yang biasa.
“Hal ini membuat saya sangat kesal. Saya pikir ini benar-benar menunjukkan bagaimana kita menormalisasi pedofilia dalam budaya kita,” ujar Rodrigo. Ia menambahkan bahwa sejak kecil, perempuan sudah disosialisasikan untuk merasa bersalah atas cara berpakaian mereka, dengan pesan yang menyatakan bahwa jika mereka dipandang seksual, itu adalah kesalahan mereka.
Rodrigo menjelaskan bahwa gaun babydoll yang ia pilih terinspirasi oleh gaya ikonik bintang punk perempuan era 90-an. Baginya, busana tersebut simbol pembebasan dan ekspresi diri, bukan alat untuk menarik perhatian seksual atau menampilkan diri sebagai anak kecil.
Pernyataan Rodrigo telah mendapatkan dukungan luas dari penggemar, yang melihatnya berhasil membalikkan argumen para pengkritiknya. Saat ini, Olivia Rodrigo tengah bersiap merilis album terbarunya, ‘You Look Pretty Sad for a Girl So in Love’, pada 12 Juni mendatang, yang diharapkan dapat memberikan eksplorasi tema kegembiraan dan cinta yang lebih cerah.