Flamingballofwreckage.net – Nilai tukar rupiah diperkirakan akan mengalami tekanan dan berpotensi melemah hingga mencapai Rp18.200 per dolar AS dalam perdagangan yang berlangsung pada pekan depan, antara 26 hingga 30 Oktober 2026. Prediksi ini muncul seiring dengan penguatan indeks dolar AS yang berbarengan dengan lonjakan harga minyak mentah global.
Analis mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, yang juga menjabat sebagai Direktur PT Traze Andalan Futures, menjelaskan bahwa kondisi ini disebabkan oleh penguatan yang terlihat pada indeks dolar AS serta harga minyak mentah yang terus meningkat. Dalam risetnya, Ibrahim mengungkapkan, “Dengan adanya faktor-faktor ini, rupiah berpotensi untuk melemah, dan kemungkinan besar akan mencapai titik Rp18.200 per dolar AS pada minggu depan.”
Ibrahim juga menambahkan bahwa indeks dolar AS diperkirakan akan bergerak dinamis di kisaran 100,90 hingga 103,10. Ia menegaskan bahwa dolar AS masih memiliki peluang untuk menjangkau batas atas pada rentang tersebut, yang akan berimplikasi pada tekanan berkelanjutan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. “Minggu ini, kita dapat memperkirakan bahwa indeks dolar akan terus menguat hingga mencapai level 103,10,” tuturnya.
Dinamika nilai tukar ini dapat mempengaruhi berbagai sektor ekonomi, termasuk perdagangan dan investasi. Investor dan pelaku pasar diharapkan untuk tetap memantau perkembangan kondisi yang ada untuk meminimalisir risiko yang mungkin timbul akibat fluktuasi ini.