Rupiah Anjlok Akibat Geopolitik yang Memanas di Timur Tengah

[original_title]

Flamingballofwreckage.net – Nilai tukar rupiah mengalami pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan hari Selasa. Mengalami penurunan sebesar 26 poin atau 0,15 persen, rupiah tercatat pada level Rp17.939 per dolar AS, dibandingkan dengan penutupan sebelumnya di Rp17.913 per dolar AS.

Analis dari Doo Financial, Lukman Leong, menjelaskan bahwa faktor utama yang memengaruhi pergerakan mata uang ini adalah eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah. Situasi tersebut menambah tekanan pada rupiah, terutama dengan harga minyak mentah dunia yang turut lebih tinggi sebagai dampak dari ketegangan tersebut.

Sumber dari Xinhua melaporkan bahwa kelompok Houthi di Yaman mengklaim telah melakukan serangan rudal balistik yang menargetkan Bandara Internasional King Khalid di Riyadh, Arab Saudi. Mereka juga menyatakan bahwa serangan pesawat tanpa awak (drone) telah dilaksanakan terhadap Pangkalan Udara King Khalid di Khamis Mushait, dan mengklaim telah berhasil mengenai sasaran.

Di sisi lain, laporan menyebutkan bahwa Arab Saudi telah melancarkan 119 serangan terhadap wilayah yang dikuasai Houthi, termasuk di Bandara Internasional Sanaa dan Selat Bab al-Mandab. Konflik yang berkelanjutan ini berkontribusi pada kenaikan kontrak berjangka minyak mentah, dengan West Texas Intermediate ditutup pada harga 93,74 dolar AS per barel, meningkat 2,06 persen, sedangkan minyak Brent naik 1,84 persen menjadi 106,65 dolar AS per barel.

Kondisi ini menciptakan sentimen negatif di pasar domestik, di mana aliran dana keluar dari pasar ekuitas masih berlangsung. Dengan mempertimbangkan berbagai faktor, diperkirakan nilai tukar rupiah akan berada di kisaran Rp17.850 hingga Rp18.000 per dolar AS dalam waktu dekat.

Baca Juga  Dinas Perikanan Luncurkan Delapan KNMP di Mimika

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *