Flamingballofwreckage.net – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, menekankan pentingnya penerapan prinsip “less but more” dalam pembelajaran mendalam. Dalam sambutannya, Mu’ti menyatakan bahwa pembelajaran tidak harus didasarkan pada banyaknya materi, tetapi pada kedalaman pemahaman setiap topik. Dengan kata lain, fokus harus diarahkan pada kualitas hingga siswa benar-benar memahami materi, bukan sekadar menghafal.
Prinsip “less but more” berfungsi untuk menciptakan pembelajaran yang terintegrasi antara materi dan disiplin ilmu. Pendekatan ini membutuhkan upaya guru untuk memahami keterkaitan antar mata pelajaran, sehingga memungkinkan terciptanya pengalaman belajar lintas disiplin. Proses ini juga melibatkan pembelajaran melalui kegiatan sosial dan pengalaman nyata untuk memperluas wawasan siswa.
Dalam rangka mengimplementasikan prinsip tersebut dengan lebih baik, penting bagi guru untuk melakukan refleksi setelah setiap sesi pembelajaran. Refleksi memungkinkan guru mengevaluasi metode yang digunakan dan memperoleh umpan balik untuk meningkatkan kualitas pengajaran. Menurut Naskah Akademik Pembelajaran Mendalam, refleksi merupakan bagian integral dari proses belajar yang mencakup memahami dan mengaplikasikan pengetahuan.
Mu’ti menyatakan bahwa tujuan utama dari pendekatan ini adalah untuk membentuk siswa menjadi individu yang memiliki pemahaman yang mendalam, yang lebih penting daripada sekadar menguasai banyak materi. Dengan demikian, perubahan paradigma dalam pendidikan perlu dilakukan agar siswa tidak sekadar menerima informasi, tetapi juga dapat memaknai dan menerapkan pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari.
Kesadaran guru akan peran strategis mereka dalam penerapan prinsip ini sangatlah penting, mengingat mereka menjadi ujung tombak dalam setiap kebijakan pendidikan. Berbagai program pelatihan untuk meningkatkan kompetensi guru pun menjadi prioritas. Dengan guru yang berkualitas, diharapkan pendidikan di Indonesia dapat mencapai standar yang lebih baik.