Flamingballofwreckage.net – Penurunan harga ayam di pasar domestik disebabkan oleh masalah dalam tata kelola impor pakan serta krisis likuiditas dalam rantai pasok. Pernyataan ini disampaikan oleh Perhimpunan Peternakan Mandiri Indonesia (Permindo), yang menunjukkan dampak signifikan terhadap peternak lokal. Dalam analisis yang dilakukan, peternak mengalami kerugian yang mencapai Rp10.000 per ekor ayam.
Permindo menjelaskan bahwa tata kelola impor pakan yang tidak optimal menyebabkan harga pakan mencapai titik yang tinggi, sehingga mempengaruhi biaya produksi ayam. Jatuhnya harga ayam ini terjadi dalam konteks kondisi pasar yang sudah sulit akibat pandemi, di mana permintaan pasar mengalami penurunan yang tajam. Dengan imbas tersebut, banyak peternak yang terpaksa menjual ayam mereka dengan kehilangan yang cukup besar.
Fenomena ini bukan hanya menimpa peternak skala kecil, tetapi juga menekan peternak besar yang telah berinvestasi dalam pengembangan usaha mereka. Dalam situasi seperti ini, Permindo mendesak pemerintah untuk lebih memperhatikan permasalahan ini dan melakukan langkah-langkah yang diperlukan untuk memperbaiki tata kelola importasi pakan serta membantu mengatasi krisis likuiditas yang dihadapi para peternak.
Solusi yang diusulkan termasuk peningkatan ketersediaan pakan lokal dan perbaikan sistem distribusi yang lebih efisien. Harapannya, langkah-langkah ini dapat menstabilkan harga ayam dan mengurangi beban finansial yang harus ditanggung oleh para pelaku usaha di sektor peternakan. Akan tetapi, untuk mewujudkan hal tersebut, dibutuhkan kerja sama yang solid antara pemerintah dan semua pemangku kepentingan di industri peternakan.