Pemerintah Trump Siap Bangun Karantina Cegah Ebola di Kenya

[original_title]

Flamingballofwreckage.net – Pemerintahan AS, di bawah arahan Presiden Donald Trump, mengambil langkah signifikan untuk mencegah masuknya wabah Ebola yang kian meluas dari Republik Demokratik Kongo (DRC). Kebijakan ini mencakup pembangunan fasilitas karantina di Kenya yang ditujukan untuk warga AS terpapar virus tetapi tidak menunjukkan gejala. Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, menekankan pentingnya mencegah satu kasus pun Ebola memasuki negara tersebut.

Fasilitas medis yang sedang dibangun merupakan kerjasama antara Kementerian Luar Negeri, Kementerian Kesehatan, dan Pentagon. Diharapkan, tempat ini mampu menangani berbagai kebutuhan terkait Ebola, termasuk perawatan kritis. Walaupun demikian, kebijakan ini memicu kritik dari pakar kesehatan yang mempertanyakan kebutuhan memindahkan karantina ke luar negeri, dengan menyatakan bahwa AS memiliki infrastruktur kesehatan yang memadai untuk menangani kasus tersebut.

Jeremy Konyndyk, mantan direktur USAID pada masa wabah Ebola 2014-2016, menyuarakan keprihatinan terhadap sikap pemerintah yang dinilai tidak mendukung warga nasional. Sementara itu, Dr. Krutika Kuppalli menggambarkan rencana ini “gila,” dan Lawrence Gostin dari WHO menyebutnya “ceroboh dan tidak etis.”

Di dalam negeri, pemerintahan AS juga memperketat prosedur pemeriksaan di bandara, dengan menambahkan Bandara Internasional John F. Kennedy di New York dalam daftar lokasi pemeriksaan kesehatan khusus. Selain itu, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) mengimplementasikan aturan Title 42 yang membatasi masuknya warga non-AS dari DRC, Uganda, dan Sudan Selatan.

Situasi Ebola di DRC menunjukkan adanya 1.077 kasus suspek, dengan 238 kematian, dan usaha pengendalian semakin mendesak. Uganda pun menutup perbatasan darat dengan DRC sebagai langkah pencegahan. Hanya tim penanggulangan resmi dan operasi kemanusiaan yang diizinkan melintas dalam kondisi ketat.

Baca Juga  Semarang Dilanda Banjir Setelah Hujan Lebat Selama 2,5 Jam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *