Flamingballofwreckage.net – Guru Besar Institut Teknologi Bandung (ITB), Lambok Hutasoit, memberikan penjelasan tentang keamanan dalam pengeboran panas bumi untuk mengatasi kekhawatiran masyarakat terkait potensi gempa bumi dan gangguan pada sumber air tanah. Dalam sesi penjelasan di Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Kamojang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, pada Selasa (20/10), Lambok menegaskan bahwa proses pengeboran panas bumi tidak akan memicu gempa.
Menurutnya, pengeboran hanya melibatkan pembuatan lubang di dalam batuan dan tidak ada hubungan langsung dengan kejadian gempa bumi. Lambok mengungkapkan pentingnya pemahaman masyarakat tentang proses pengeboran dan karakteristik geologi untuk meminimalisir penerimaan informasi yang salah.
Ia menyampaikan bahwa meskipun kegiatan eksplorasi panas bumi dapat mempengaruhi tekanan fluida dalam reservoir, pengelolaan yang baik dan pemantauan ketat terhadap aktivitas kegempaan harus dilakukan untuk menghadapi risiko tersebut. Mengenai potensi gangguan sumber air tanah, Lambok menjelaskan bahwa akuifer biasanya berada pada kedalaman yang berbeda dibandingkan reservoir panas bumi.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa teknologi pengeboran yang baik melibatkan penggunaan pipa pelindung untuk melindungi sumber air tanah. Lambok menambahkan bahwa pengeboran hingga kedalaman 2.000 meter adalah praktik yang umum dilakukan dan berada dalam batasan aman.
PLTP Kamojang, yang telah beroperasi sejak tahun 1983 dan memiliki total kapasitas 235 megawatt, menjadi salah satu contoh pengembangan energi panas bumi di Indonesia. Dengan pengalaman lebih dari empat dekade, Lambok menekankan pentingnya edukasi berbasis ilmu pengetahuan agar masyarakat lebih memahami langkah-langkah pengendalian risiko dalam pengembangan panas bumi.