Flamingballofwreckage.net – Kota Makassar menjadi lokasi pelaksanaan debat publik yang diselenggarakan oleh Nagara Institute, sebuah lembaga riset independen, pada Rabu (15/4). Debat ini mengangkat isu penting mengenai Danantara, sebuah superholding yang direncanakan untuk mengelola aset besar senilai 900 miliar dolar AS atau sekitar Rp14.700 triliun.
Direktur Nagara Institute, Akbar Faizal, menekankan pentingnya partisipasi publik dalam pembahasan ini agar para pemegang kas negara bertanggung jawab dalam menjalankan tugas mereka. Dalam pernyataannya, Akbar menegaskan, “Kita sedang menyaksikan pergeseran besar dalam sejarah ekonomi kita.” Dia menginginkan agar narasi tentang Danantara diperoleh dari berbagai perspektif, termasuk sudut pandang akademisi dan ahli.
Sebagai mesin baru untuk pengembangan ekonomi Indonesia, Danantara berpotensi meningkatkan pertumbuhan hingga 8 persen. Namun, ada kekhawatiran bahwa pengelolaan yang tidak transparan dan korup dapat berujung pada kehancuran ekonomi. Debat bertajuk “Pro Kontra Model Pengelolaan BUMN pada Era Ekonomi Baru” ini menghadirkan sejumlah pakar, termasuk ekonom senior dari Bright Institute, Awalil Rizky, dan pengamat kebijakan Wijayanto Samirin.
Kekhawatiran lain muncul terkait penurunan laba BUMN, yang dari Rp327 triliun pada 2023 diprediksi menurun menjadi Rp304 triliun tahun depan, setelah pembentukan Danantara. Dalam konteks ini, Akbar Faisal berharap acara tersebut dapat menghasilkan rekomendasi konkret bagi pemerintah dan pihak terkait untuk meningkatkan pengelolaan BUMN di masa mendatang.