Flamingballofwreckage.net – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan akan bergerak mendatar atau sideways dengan kecenderungan menguat tipis pada pekan depan. Proyeksi ini disampaikan oleh pengamat pasar modal, Reydi Octa, yang menilai bahwa pasar belum sepenuhnya keluar dari fase konsolidasi akibat sentimen global dan domestik yang masih terjaga.
Menurut Reydi, investor saat ini memilih bersikap defensif dan selektif, lebih berorientasi pada saham-saham berkapitalisasi besar dan likuid. Hal ini terlihat dalam rotasi ke sektor berbasis komoditas dan energi, yang dipengaruhi oleh situasi geopolitik global. “Investor fokus pada big caps dan likuiditas, menunggu katalis baru,” ujar Reydi.
Sentimen global juga akan sangat memengaruhi pasar domestik, di mana arah suku bunga bank sentral Amerika Serikat (The Fed), pergerakan yield US Treasury, serta dinamika geopolitik menjadi faktor utama. Jika pasar global menguat dan ketegangan geopolitik mereda, hal ini dapat memberikan dampak positif terhadap IHSG.
Di sisi lain, pelaku pasar domestik akan menunggu respon investor asing terkait isu MSCI serta perkembangan nilai tukar rupiah dan data inflasi. Reydi mengungkapkan, kombinasi faktor-faktor ini akan menentukan stabilitas aliran modal asing ke pasar Indonesia.
Pada penutupan perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Jumat (10/4), IHSG tercatat menguat 150,91 poin atau 2,07 persen ke posisi 7.458,50. Frekuensi perdagangan mencapai 2.287.124 transaksi, dengan nilai total saham yang diperdagangkan sebesar Rp18,12 triliun. Situasi ini menunjukkan dinamika pasar yang masih dalam tahap pemulihan.