Flamingballofwreckage.net – Para pemimpin negara adidaya tengah berlomba untuk bertemu dengan Presiden China, Xi Jinping, di tengah meningkatnya pengaruh diplomatik Beijing. Kunjungan Presiden Rusia, Vladimir Putin, ke Beijing pada Selasa malam menjadi sorotan, di mana ia akan bertemu Xi untuk merayakan perjanjian kerjasama yang ditandatangani dua dekade lalu. Pertemuan ini dijadwalkan berlangsung pada Rabu pagi.
Signifikansi KTT Xi-Putin ini melampaui sekadar peringatan perjanjian; datangnya Putin hanya sehari setelah kunjungan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang meninggalkan China setelah KTT dengan Xi. Meskipun Trump mengklaim adanya kemajuan dalam kesepakatan perdagangan, tantangan besar seperti isu Taiwan dan konflik di Iran masih belum terselesaikan.
Para analis berpendapat, momen ini memperkuat posisi Rusia dan China yang sama-sama menghadapi sanksi Barat dan kebijakan luar negeri AS yang dianggap kontroversial. Kunjungan Putin menunjukkan bahwa Beijing berusaha menegaskan diri sebagai aktor utama dalam tatanan global, dan ini merefleksikan kemitraan strategis yang terjalin erat antara kedua negara dalam beberapa tahun terakhir.
Dengan tujuan memperdalam kerjasama di bidang ekonomi, teknologi, dan militer, pendalaman hubungan bilateral ini diharapkan akan terus menguat. Meskipun demikian, analis memperingatkan bahwa tidak ada harapan untuk perubahan signifikan dalam hubungan mereka. Menurut Oleg Ignatov, seorang analis senior dari Crisis Group, meskipun keduanya adalah mitra strategis, mereka tidak dalam aliansi militer formal.
Kunjungan ini mencerminkan langkah diplomatik China untuk menduduki posisi sentral dalam arena internasional, di saat dunia mengalami fragmentasi yang semakin besar.