Flamingballofwreckage.net – Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengingatkan bahwa penggunaan kecerdasan buatan (AI) dalam konteks kesehatan mental memiliki batasan yang signifikan. Walaupun AI semakin menjadi pilihan untuk meluapkan perasaan, teknologi ini dinilai hanya efektif untuk kondisi psikologis ringan dan tidak dapat menggantikan peran tenaga medis profesional.
Dalam seminar yang berlangsung pada Selasa, 21 Juli, Angga Wirahmadi, anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Tumbuh Kembang dan Pediatri Sosial IDAI, menjelaskan bahwa kemampuan AI terbatas dalam memberikan intervensi medis yang mendalam. Ia mengungkapkan, fungsi AI memang dapat memberikan respons penenangan, tetapi tidak dalam kapasitas edukasi atau konseling.
Menurut Angga, AI dapat membantu meredakan kecemasan sehari-hari, seperti rasa gugup sebelum ujian, dengan memberikan empati dasar dan tips praktis. Namun, ia menekankan bahwa peran AI harus terbatas pada tahap penenangan awal saja. AI tidak memiliki kewenangan untuk melakukan diagnosis atau intervensi kognitif yang lebih kompleks.
Peringatan ini semakin relevan mengingat risiko keselamatan pengguna akibat ketergantungan pada AI. Kasus tragis yang melibatkan remaja Adam Raine di Amerika Serikat pada April 2025, di mana interaksi dengan AI dilaporkan memicu perilaku fatal, menyoroti pentingnya pendampingan dari tenaga ahli. Untuk itu, IDAI mengimbau masyarakat agar lebih memilih layanan konseling dari psikolog atau psikiater profesional, terutama yang tersedia secara daring melalui organisasi resmi.
Dengan meningkatnya penggunaan AI dalam interaksi sosial, IDAI mengingatkan bahwa keselamatan dan kesehatan mental harus tetap menjadi prioritas utama.