Tarif HPP Gula Petani Perlu Kenaikan Pada Tahun Ini

Flamingballofwreckage.net – Petani tebu dari sejumlah daerah di Jawa menggelar unjuk rasa di Jakarta untuk mendesak kenaikan harga pokok pembelian (HPP) gula yang selama tiga tahun terakhir tidak mengalami perubahan. Aksi ini dipimpin oleh Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) dan berlangsung di sekitar Istana Merdeka serta kantor Menko Pangan.

Para petani meminta agar HPP gula yang saat ini ditetapkan Rp14.500 per kilogram dinaikkan, mengingat biaya produksi yang terus meroket. Mereka juga menolak rencana pemerintah untuk mengimpor 150 ribu ton gula mentah, penghapusan harga acuan penjualan di tingkat konsumen, serta menuntut kenaikan rendemen tebu minimal 8%. Selain itu, petani meminta subsidi pupuk yang mencakup seluruh lahan tebu mereka dan akses lebih mudah ke Kredit Usaha Rakyat (KUR).

Dalam rentang waktu tiga tahun terakhir, petani menghadapi peningkatan signifikan dalam biaya produksi, termasuk sewa lahan, tenaga kerja, dan harga pupuk. Berdasarkan data dari APTRI, biaya pokok produksi gula kini mencapai Rp15.340 per kilogram. Jika HPP gula tetap di Rp14.500, petani akan mengalami kerugian.

Fakta mengenai kenaikan biaya produksi ini juga tercatat dalam rapat koordinasi harga acuan gula konsumi yang diselenggarakan oleh Badan Pangan Nasional (Bapanas) pada 18 Mei 2026. Dalam rapat tersebut, usulan dari Kementerian Pertanian adalah menetapkan HPP gula di angka Rp15.500, sementara Bapanas menyarankan Rp15.000.

Permasalahan dalam penetapan HPP yang disepakati antar-kementerian ini menimbulkan dilema, mengingat kebutuhan untuk segera mengatasi kondisi yang merugikan petani. Unjuk rasa ini mencerminkan ketidakpuasan petani terhadap kebijakan pangan yang dianggap tidak mendukung keberlangsungan usaha mereka.

Baca Juga  MBS Menolak Proyek Kebebasan di Selat Hormuz, Ini Alasannya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *