Site icon flamingballofwreckage

Pesawat ATR 42-500 Jatuh di Maros, Terkait Awan Cumulonimbus

[original_title]

Flamingballofwreckage.net – Awan Cumulonimbus menjadi sorotan setelah kecelakaan pesawat ATR 42-500 di Maros, Sulawesi Selatan, pada Sabtu, 17 Januari. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menjelaskan bahwa awan jenis ini berpotensi membawa hujan lebat dan badai. Dua korban dari kecelakaan tersebut telah ditemukan dan dievakuasi oleh tim SAR, sementara delapan korban lainnya masih dalam pencarian.

Awan Cumulonimbus dikenal sebagai “Raja Awan” karena kemampuannya mempengaruhi cuaca secara drastis. Penyebutan nama ini berasal dari Latin, di mana “Cumulus” berarti tumpukan, dan “Nimbus” berarti hujan. Awan ini dapat tumbuh dari permukaan bumi hingga ketinggian 10-15 kilometer dan seringkali disertai dengan fenomena seperti petir dan badai.

Karakteristik Cumulonimbus yang mudah dikenali termasuk struktur vertikal yang besar, warna gelap di bagian dasar, serta puncak berbentuk landasan. Hal ini menjadikannya berbahaya bagi penerbangan, terutama karena turbulensi yang ekstrem, potensi pembekuan, dan gangguan radar. Dalam dunia aviasi, pilot harus menghindari terbang di dekat awan ini untuk mencegah risiko yang bisa terjadi.

Pembentukan awan Cumulonimbus memerlukan kelembapan tinggi, ketidakstabilan atmosfer, dan gaya angkat udara. Proses ini berlangsung dalam tiga tahap: pertumbuhan, kematangan, dan peluruhan. Dengan memahami awan ini, diharapkan masyarakat lebih waspada terhadap potensi cuaca ekstrem yang dapat terjadi, termasuk bencana yang ditimbulkannya. Selalu ikuti informasi dari BMKG untuk mengantisipasi kondisi cuaca yang berubah-ubah.

Exit mobile version