Flamingballofwreckage.net – Lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM) akibat konflik di Iran diperkirakan akan menyebabkan inflasi di Amerika Serikat (AS) melonjak signifikan. Indeks Harga Konsumen (CPI) AS diprediksi meningkat sebesar 1% pada Maret 2026, mencatat angka tertinggi sejak dua tahun terakhir.
Menurut ekonom yang dilansir oleh Bloomberg, kenaikan harga BBM merupakan faktor utama yang akan mendorong inflasi dalam waktu dekat. Harga bensin di AS telah naik sekitar USD1 per galon, yang disebabkan oleh gangguan pada pasokan energi global yang dipicu oleh ketegangan yang meningkat di kawasan Timur Tengah.
Analisis lebih dalam menunjukkan bahwa inflasi inti, yang tidak memperhitungkan elemen energi dan pangan, diperkirakan akan tetap moderat dengan kenaikan hanya sebesar 0,3%. Namun, dampak dari harga barang konsumsi yang meningkat ini diperkirakan akan terasa dalam berbagai sektor, termasuk transportasi dan barang-barang yang bergantung pada energi.
Kondisi ini membawa kekhawatiran mengenai daya beli masyarakat AS yang mungkin berkurang, terutama bagi kalangan yang lebih rentan. Dengan ketidakpastian yang masih melanda pasar energi global, para pakar ekonomi mengingatkan agar pengambilan keputusan di level kebijakan tetap waspada.
Kenaikan harga ini semakin mempertegas tantangan yang dihadapi ekonomi AS di tengah ketegangan geopolitik, dan masyarakat diharapkan dapat bersiap menghadapinya. Dalam konteks yang lebih luas, fenomena ini menunjukkan bagaimana ketidakpastian global dapat secara langsung mempengaruhi kondisi ekonomi domestik.