Flamingballofwreckage.net – Ketegangan antara Israel dan Libanon semakin memanas setelah Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, mengeluarkan ancaman untuk menghancurkan desa-desa di sepanjang perbatasan kedua negara. Langkah ini adalah bagian dari strategi militer Israel untuk menciptakan zona penyangga permanen di wilayah selatan Libanon, terfokus pada penguasaan daerah hingga Sungai Litani yang berjarak sekitar 30 kilometer dari garis perbatasan.
Dalam pernyataannya, Katz menegaskan bahwa operasi militer akan melibatkan perusakan besar-besaran terhadap infrastruktur sipil dalam rangka menjaga keamanan di utara Israel. “Militer Israel akan mengendalikan area sampai Sungai Litani, menghancurkan persenjataan, dan menumpas pasukan yang berpotensi mengancam,” ujar Katz.
Rencana ini, yang disamakan dengan taktik bumi hangus di Jalur Gaza, menuai kritik keras. Sejak awal Maret 2026, Israel telah melakukan invasi darat serta serangan udara setelah terjadi serangan roket dari Hizbullah ke wilayah utara Israel. Konflik ini dipicu oleh tindakan balasan setelah pembunuhan pemimpin tertinggi Iran oleh Israel.
Reaksi dari pemerintah Libanon pun sangat tegas. Menteri Pertahanan Libanon, Mayjen Michel Menassa, mengecam pernyataan Katz sebagai indikasi niat Israel untuk melakukan pendudukan baru. Bukan hanya pemerintah Libanon, kecaman juga datang dari Uni Eropa, Kanada, dan Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Data terbaru mencatat bahwa konflik yang berlangsung sejak awal Maret 2026 telah menewaskan sebanyak 1.238 orang di Libanon, termasuk anak-anak dan tenaga kesehatan. Kondisi kemanusiaan terus memburuk, dengan PBB memperingatkan bahwa penghancuran desa-desa di perbatasan hanya akan memperparah krisis pengungsian dan menciptakan pelanggaran hukum humaniter internasional yang lebih lanjut.