Flamingballofwreckage.net – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) mengalami penutupan yang menurun pada Senin sore, mencatat penurunan sebesar 218,65 poin atau 2,66 persen, sehingga berada di level 8.016,83. Penurunan ini sejalan dengan pelemahan bursa saham di kawasan Asia, di mana investor beralih ke aset yang dianggap lebih aman, seperti emas dan obligasi pemerintah.
Kepala Riset Phintraco Sekuritas, Ratna Lim, menjelaskan bahwa ketegangan yang meningkat antara Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran telah menciptakan kekhawatiran akan terjadinya perang terbuka, sehingga mendorong investor untuk menghindari investasi yang berisiko. Selain itu, kenaikan harga minyak mentah juga menambah kekhawatiran terkait inflasi yang mungkin meningkat, yang pada gilirannya dapat memicu kenaikan suku bunga secara global.
Meskipun IHSG secara keseluruhan mengalami penurunan, beberapa saham di sektor energi dan tambang emas menunjukkan penguatan, membantu menahan laju penurunan IHSG. Sementara itu, data inflasi domestik menunjukkan kenaikan 0,68 persen month to month (mtm) pada Februari 2026, berbanding terbalik dengan deflasi 0,15 persen yang terjadi pada Januari 2026.
Kenaikan inflasi ini umumnya dipicu oleh kelompok pengeluaran makanan, minuman, dan tembakau, yang sering kali terpengaruh oleh bulan Ramadan. Inflasi tahunan juga menunjukkan akselerasi, mencapai 4,76 persen year on year (yoy) di bulan Februari, meningkat dari 3,55 persen (yoy) pada bulan sebelumnya. Ini merupakan level tertinggi yang tercatat sejak Maret 2023. Kenaikan tersebut merupakan hasil dari pengaruh diskon tarif listrik yang berlaku pada awal 2025, yang sebelumnya menekan harga di tahun lalu.