Indonesia Berbagi Pengalaman Pengelolaan Gambut di GPI Peru

[original_title]

Flamingballofwreckage.net – Indonesia telah membagikan pengalaman dan strategi pengelolaan ekosistem gambut dalam pertemuan tingkat teknis Global Peatlands Initiative (GPI) yang berlangsung di Lima, Peru, pada 2 Juli. Dalam forum ini, fokus utama presentasi mencakup pendekatan hidrologi, pemantauan karbon, serta pengendalian emisi gas rumah kaca (GRK).

Agus Justianto, Analis Kebijakan Ahli Utama dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, menjelaskan bahwa perlindungan ekosistem gambut merupakan pilar penting dalam pembangunan rendah karbon. Hal ini relevan dengan target Nationally Determined Contribution (NDC) Indonesia yang bertujuan untuk mengurangi emisi global. Dalam penjelasannya, Agus menyoroti bahwa pengelolaan gambut tidak hanya terkait dengan perlindungan lahan basah tetapi juga menekankan pentingnya menjaga keseimbangan gas rumah kaca dan mendukung keberlanjutan biodiversitas.

Indonesia menerapkan kerangka kerja yang komprehensif, termasuk perlindungan area gambut yang masih utuh dan pencegahan kerusakan tutupan. Pengelolaan dilakukan secara terintegrasi dalam skala Kesatuan Hidrologis Gambut (KHG) untuk mengatur ketersediaan air dan mengendalikan emisi. Agus menambahkan, langkah-langkah seperti pemilihan komoditas yang sesuai dan mencegah penggunaan api juga sangat penting.

Di sisi lain, Bambang Supriyanto menekankan pentingnya penerapan sistem pemetaan hidrologis berbasis kedalaman kubah gambut, yang menjadi dasar untuk penentuan lokasi restorasi. Pendekatan berbasis data ini membantu memprioritaskan intervensi, termasuk rewetting, revegetasi, dan revitalisasi ekonomi.

Selain itu, sistem Monitoring, Reporting, and Verification (MRV) digital diimplementasikan untuk memantau tinggi muka air secara real-time. Melalui forum ini, Indonesia menunjukkan bahwa pengelolaan gambut yang efektif membutuhkan kolaborasi antara kebijakan, ilmu pengetahuan, teknologi, dan aksi nyata, serta berharap pengalaman ini bisa menjadi referensi untuk negara-negara pemilik gambut tropis lainnya dalam menghadapi tantangan perubahan iklim.

Baca Juga  Pesawat ATR 42-500 Berangkat Sesuai Prosedur yang Ditentukan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *