Indef: Penghematan Rp6,2 Triliun dari WFH Tidak Tepat

[original_title]

Flamingballofwreckage.net – Kebijakan work from home (WFH) di Indonesia memunculkan klaim penghematan fiskal sebesar Rp6,2 triliun, menurut ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance, Rizal Taufikurahman. Namun, ia menekankan bahwa angka ini perlu ditelaah secara kritis dan tidak dapat diartikan sebagai angka yang absolut. Rizal menjelaskan bahwa potensi penghematan tersebut sangat bergantung pada asumsi-asumsi yang belum tentu terealisasi, seperti tingkat kepatuhan masyarakat terhadap penerapan WFH dan penurunan mobilitas yang signifikan.

Dalam pernyataannya, ia menyatakan bahwa meskipun terdapat klaim penghematan, pada praktiknya, konsumsi energi tidak sepenuhnya menurun. Justru, konsumsi energi bergeser dari sektor transportasi ke rumah tangga. “Penghematan tersebut tidak bisa diterima begitu saja,” ujarnya saat dihubungi pada Rabu, 1 April. Rizal juga memperingatkan bahwa pengurangan mobilitas yang diakibatkan oleh WFH berpotensi berdampak negatif terhadap sektor-sektor ekonomi yang sangat bergantung pada pergerakan masyarakat, seperti transportasi, ritel, dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Rizal menegaskan bahwa meskipun ada potensi penghematan di sisi belanja, penurunan aktivitas ekonomi dapat berdampak pada penerimaan negara, utamanya dari pajak pertambahan nilai (PPN) dan sektor jasa. Oleh karena itu, penghematan yang diklaim bisa jadi tidak sebanding dengan dampak negatif dalam sektor lainnya. Ia menyimpulkan bahwa WFH bukanlah solusi jangka panjang untuk memperbaiki kondisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), melainkan hanya langkah administratif yang terbatas. Pemerintah diimbau untuk lebih fokus pada kebijakan yang berdampak nyata dan terukur untuk memperbaiki keadaan ekonomi.

Baca Juga  Pengusaha Sawit Siap Hadapi EUDR, Tantangan Bagi Petani

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *