Mendag: Neraca Dagang RI Stabil Meski Ada Tarif AS

[original_title]

Flamingballofwreckage.net – Menteri Perdagangan Budi Santoso menanggapi anggapan bahwa Neraca Perdagangan Indonesia akan tertekan akibat kesepakatan tarif resiprokal dengan Amerika Serikat. Dalam penjelasannya di Jakarta pada Selasa, Budi menegaskan bahwa tarif untuk produk Indonesia yang diekspor ke AS saat ini sudah hampir mendekati 0 persen. Ia menambahkan, kekhawatiran tersebut tidak berdasar, karena surplus perdagangan Indonesia dengan AS masih tetap terjaga.

Menurut Budi, kesepakatan tarif baru ini justru memberikan keuntungan bagi Indonesia. Negara ini akan menikmati fasilitas tarif 0 persen untuk berbagai komoditas, yang diharapkan akan meningkatkan daya saing produk nasional di pasar global. Sepanjang 2025, Indonesia mencatat surplus perdagangan sebesar 21,12 miliar dolar AS, dengan kontribusi terbesarnya berasal dari mesin, pakaian, dan alas kaki.

Komoditas asal Indonesia yang mendapatkan tarif 0 persen ke AS mencakup minyak sawit, kopi, kakao, dan berbagai komponen elektronik serta pesawat terbang. Terlebih lagi, Indonesia dan AS juga sepakat untuk menerapkan skema tarif tanpa bea masuk bagi produk tekstil dan garmen, yang akan diatur melalui mekanisme Tariff Rate Quota (TRQ). Namun, kuota yang diperoleh akan relevan dengan jumlah bahan baku tekstil yang diimpor dari AS.

Nilai ekspor Indonesia ke AS pada tahun lalu mencapai 30,96 miliar dolar AS, dengan mesin dan peralatan mekanis sebagai pendorong utama. Sementara itu, nilai impor dari AS tercatat 9,84 miliar dolar AS, yang didominasi oleh mesin dan peralatan elektrik. Budi optimis bahwa dengan kesepakatan ini, ekspor Indonesia akan terus meningkat, dan hal tersebut akan mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.

Baca Juga  KAI Logistik Hadirkan Pusat Logistik Terintegrasi di Ronggowarsito

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *