Site icon flamingballofwreckage

Mitos Gizi: Anak Gemuk dan Kesalahan Pemahaman Makan Malam

[original_title]

Flamingballofwreckage.net – Di tengah tren gaya hidup sehat, masih banyak mitos mengenai gizi yang melekat di masyarakat. Salah satu yang umum dipercaya adalah bahwa anak gemuk merupakan tanda kesehatan, serta pandangan bahwa makan malam bisa menyebabkan kegemukan. Selain itu, nasi sering kali disalahkan sebagai penyebab utama perut buncit.

Prof. Ali Khomsan, Guru Besar Pangan dan Gizi dari IPB University, menegaskan bahwa persepsi ini berasal dari cara pandang kuno yang mengabaikan prinsip gizi seimbang. Ia mengingatkan bahwa kesehatan tak seharusnya dinilai hanya dari penampilan fisik semata. “Dulu, tubuh gemuk dianggap simbol kemakmuran. Namun kini, kita menyadari bahwa hal tersebut justru meningkatkan risiko penyakit tidak menular,” ungkapnya.

Indikator kesehatan anak, lanjutnya, seharusnya ditentukan berdasarkan kesesuaian berat dan tinggi badan sesuai standar medis. Kegemukan, terutama pada anak, dapat menjadi faktor risiko terhadap berbagai penyakit seperti hipertensi dan diabetes. Selain itu, ia menyoroti bahwa anak bertubuh kecil belum tentu mengalami stunting, karena penentuan stunting memerlukan ukuran objektif yang bisa dilakukan di Puskesmas.

Selain soal fisik, Prof. Ali juga menjelaskan mitos lain terkait pola makan. Ia mengungkapkan bahwa masalah kenaikan berat badan dari makan malam berkaitan dengan jeda waktu sebelum tidur, bukan waktu makannya. Menurutnya, tubuh memerlukan jeda empat hingga lima jam untuk proses pencernaan yang optimal.

Menghadapi anggapan negatif terhadap nasi, Prof. Ali menekankan pentingnya kontrol porsi dibandingkan dengan jenis makanan itu sendiri. “Masalah bukan pada nasi, tetapi pada kuantitasnya,” tuturnya. Dari edukasi ini, diharapkan masyarakat lebih memahami pentingnya keseimbangan pola makan dan gaya hidup, alih-alih menyalahkan satu jenis makanan tertentu.

Exit mobile version