Flamingballofwreckage.net – Dalam konteks pemilihan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Wakil Katib Syuriyah PWNU DKI Jakarta, KH Taufik Damas, mengemukakan pandangannya bahwa proses pemilihan tidak seharusnya dilakukan melalui suara langsung. Ia menilai pentingnya mempertimbangkan tradisi dan karakter khas organisasi dalam menentukan pemimpin.
Menurut KH Taufik, mekanisme Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) harus dijadikan lebih dominan dalam pemilihan. Ia berargumen bahwa kepemimpinan NU seharusnya dihasilkan melalui musyawarah dan pertimbangan para ulama, dan bukan sekadar melalui kompetisi suara. “Ketua Umum PBNU semestinya lahir dari syura dan hikmah, bukan dari kompetisi suara. AHWA menjaga agar pemimpin ditentukan berdasarkan ilmu dan akhlak,” ungkapnya dalam sebuah wawancara pada Minggu (16/8/2026).
Lebih lanjut, KH Taufik menegaskan bahwa NU bukanlah partai politik yang mengedepankan kompetisi elektoral sebagai mekanisme untuk memilih pemimpin. Sebaliknya, NU merupakan organisasi keagamaan yang lahir dari tradisi pesantren dan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jama’ah. Ia menegaskan bahwa pendekatan yang lebih sesuai adalah menjaga keteladanan dan kemaslahatan dalam menentukan kepemimpinan.
Dengan meningkatkan kesadaran mengenai pentingnya tradisi dalam kepemimpinan NU, harapan KH Taufik adalah agar pemilihan Ketua Umum PBNU ke depan dapat mengedepankan nilai-nilai yang telah lama dipegang oleh organisasi tersebut. Pendapat ini muncul menjelang Muktamar ke-35 NU yang diperkirakan akan menjadi momen penting dalam menentukan arah dan kepemimpinan ke depan.
![Ketua PBNU Dihimbau Tak Dipilih Langsung, AHWA Lebih Tradisional | flamingballofwreckage [original_title]](https://flamingballofwreckage.net/wp-content/uploads/2026/08/pwnu-dki-ketum-pbnu-jangan-dipilih-langsung-ahwa-lebih-sesuai-dengan-tradisi-nu-qho.jpg)