Site icon flamingballofwreckage

Kasus Persekusi Anak Jakarta Tunjukkan Siklus Bullying Tak Berakhir

[original_title]

Flamingballofwreckage.net – Kasus persekusi seorang anak berusia enam tahun berinisial MWP di Taman Kramat Pulo oleh dua remaja baru-baru ini mencerminkan lingkaran setan bullying yang terus berulang di Indonesia. Sosiolog Universitas Nasional, Sigit Rohadi, menegaskan bahwa perilaku bullying tidak muncul begitu saja, melainkan merupakan hasil dinamika sosial yang kompleks.

Menurut Sigit, penyebab bullying sangat variatif, meski kebutuhan akan pengakuan sosial dan kontrol menjadi faktor dominan. Ia mencatat bahwa masa kanak-kanak dan remaja adalah periode pencarian identitas yang sangat dipengaruhi oleh tiga faktor utama: keluarga, sekolah, dan kelompok teman sebaya.

Dalam konteks bullying, pengaruh teman sebaya ternyata sangat signifikan. Banyak remaja terlibat dalam tindakan bullying sebagai cara untuk menunjukkan kekuasaan di wilayah tertentu dan menciptakan kontrol atas lingkungan mereka. Ironisnya, pelaku perundungan sering kali merupakan mantan korban di lingkungan lain. Individu yang merasa kalah dalam satu konteks, seperti di sekolah, cenderung mencari pelampiasan di tempat lain di mana mereka merasa lebih dominan.

Lebih lanjut, Sigit menyoroti peran pola asuh yang diterapkan orang tua yang kasar atau merendahkan anak, yang dapat membentuk perilaku bullying di kemudian hari. Perundungan juga sering terjadi karena perbedaan, seperti ukuran tubuh, ras, atau identitas gender, dengan remaja yang populer kadang melakukan bullying untuk mempertahankan status sosial mereka.

Sebagai upaya mengatasi perilaku ini, Sigit menyarankan pengenalan kompetisi sehat di lingkungan masyarakat, dari tingkat rukun tetangga hingga kecamatan. Anak-anak perlu dibiasakan berkompetisi dan bekerja sama dalam aturan yang jelas, sehingga pengakuan sosial lebih berfokus pada prestasi daripada dominasi dan kekerasan.

Exit mobile version