Site icon flamingballofwreckage

Dari Warna Pelangi Hingga Hitam yang Mendunia

[original_title]

Flamingballofwreckage.net – Sejarah kiswah Kakbah telah berakar sejak zaman Nabi Ismail AS, putra Nabi Ibrahim AS. Meskipun tidak ada catatan mengenai material dan warna kiswah pada masa tersebut, kiswah sebagai penutup Kakbah telah menjadi bagian penting dalam tradisi Islam. Saat ini, kiswah tersebut terbuat dari kain sutera hitam pekat, dihiasi dengan kaligrafi ayat Al-Qur’an yang ditulis dengan benang emas dan perak, menjadi simbol keanggunan dan kesucian.

Setiap tahun, saat musim haji, perhatian umat Muslim tertuju pada penggantian kiswah, yang biasanya dilakukan di bulan Zulhijjah saat jemaah bersiap melaksanakan wuquf di Arafah. Menurut Ustaz Miftah el-Banjary, kiswah mulai diperkenalkan pada masa Raja Himyar As’ad Abu Bakr dari Yaman, yang mengatur pemasangan kiswah untuk melindungi Kakbah dengan kain tenun, mengikuti tradisi yang sudah ada.

Pada masa Qusay ibn Kilab, tanggung jawab penggantian kiswah beralih kepada suku Quraisy, termasuk Nabi Muhammad SAW yang memerintahkan pembuatan kiswah dari kain Yaman. Selama era Khulafa al-Rasyidin, kiswah dibuat dari benang kapas. Saat ini, kiswah terdiri dari lima bagian: empat sisi dan tirai pintu, yang memerlukan lebih dari 600 kg sutra murni untuk diproduksi.

Dalam sejarahnya, kiswah juga mengalami pergeseran dalam kualitas dan sumber, seperti pada era Kekhalifahan Abbasiyah yang menggunakan kain sutra Khuz dari Mesir, dan pada masa Turki Utsmani yang mengimpor kiswah dari Istanbul. Kini, pembuatan kiswah dilakukan oleh lebih dari 200 pekerja di pabrik milik kerajaan Saudi di Al Joud, Makkah, dengan desain yang cermat serta menggunakan bahan berkualitas tinggi. Kiswah adalah simbol keagungan dan spiritualitas yang terus terjaga hingga kini.

Exit mobile version